ABAK, TAK DITAKDIRKAN SELAIN MENJADI GURU

. . Tidak ada komentar:
Sebelum jadi guru, Abak telah mencicipi karir sebagai penjual sandal dari pasar ke pasar. Juga pernah membuka lapau dan toko pupuk. Agaknya profesi itu sudah tak seksi lagi dimata Abak saat beliau menjadi guru agama.


Aku ini anak paling pendiam di antara yang enam. Tak banyak bicara, tak banyak cerita, tak banyak tanya. Makanya saat Abak jadi guru, aku tak tau pendidikan terakhir beliau apa? Dan kurang ajarnya, aku juga tak bertanya. Hahaha. Seingatku, saat beliau sudah lama jadi guru, pada tahun 1996-an beliau baru wisuda dan dapat gelar A. Ma. Pd., gelar bagi wasudawan diploma II. Jadi beliau diangkat sebagai guru pakai ijazah apa? Anggap saja beliau pernah mengenyam sekolah keguruan selama setahun. Anggap saja.


Agak susah mengingat cerita Abak masa dulu. Kalau tidak salah, awal-awal jadi guru beliau dinas di daerah ilie (hilir), entah Padang Aro, entah Sangir. Ingatanku tak secanggih dulu lagi. Daerah itu dua jam lebih berkendara dari Jorong Pisau Hilang. Aku membayangkan bagaimana perjuangan mendidik anak-anak bangsa dengan jarak tempuh sejauh itu. Juga tak terbayang kecemasan Ibu saat menunggu kepulangan Abak dari hilir sana. Entah itu cemas, entah itu rindu, entah lah!


Singkat cerita, Abak mutasi ke SD 01 Pasa Surian, lima menit berkendara dari rumah, alhamdulillah. Beliau guru agama kami (aku, unang Rahmi dan Bang Uzi) saat duduk di bangku SD. Saat di SD 01, aku merasakan betapa kejamnya orang-orang Surian (#lebay). Senior-senior termasuk anak SMP 01 tak henti-henti mengejek Abak seperti seorang astronot. Memang, beliau kerap memakai helm dan jaket tebal putih saat berkendara Astrea Prima ke sekolah hingga dianggap seperti astronot. Ya, gara-gara itu juga aku tak mau masuk SMP 01 dan akhirnya manut saja saat disuruh masuk pesantren.


Dan jauh-jauh sebelum itu, Abak mencoba kerja part time membesarkan jawi (sapi) di Bukik Rampuang. Akhirnya sapi mati karena sakit. Rumput gajah yang ditanam dibelakang rumah saat itu tak berguna lagi. Untuk mengenang kematian sapi, kadang aku masih sempat ke kandangnya. Saat dikubur disitu, ujung kakinya masih muncul sedikit di atas tanah. Hehehe…


Kemudian Abak juga mencoba berbisnis ayam pedaging dan punya tiga kandang, tak bebarapa lama usaha itu juga terhenti karena harga makanan ayam mahal.


Saat harga cabe mahal, beliau mencoba juga menanam cabe. Saat panen harganya murah. #DisanaKadangSayaMerasaSedih. Begitu juga dengan bawang dan kopi. Akhirnya sejak itu Abak tak mau lagi berladang. Nampaknya beliau benar-benar tak ditakdirkan selain menjadi guru saja. Pulang sekolah, paling beliau hanya memaksimalkan kebun kopi beberapa hektar itu yang harganya semakin turun dari hari ke hari, daripada terbengkalai tak terawat.


Entah tahun 2000 berapa, Abak naik pangkat jadi kepala sekolah SD di Ulu Indaruang, karena merasa tak betah maka beliau mengundurkan diri. Beliau kembali jadi guru agama biasa di SD 01 sampai pensiun tahun lalu. Begitulah cerita karir Abak. Lelaki luar biasa yang anak-anaknya bangga akan kegigihan beliau. Semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan rahmat kepada beliau dan perempuannya (Ibu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut