Abak dan Kami

. . Tidak ada komentar:
Setiap hari di pagi yang dingin, ketika aku masih belum beranjak dari kasur, Abak datang dan langsung menarik selimutku. Beliau kemudian  melipatnya tanpa permisi dan membuka seluruh jendela kamar. Dingin menyeruak ke dalam dan mengalir ke pori-pori, badanku gemetar kedinginan bak vespa yang baru dipanaskan mesinnya. Masih terdengar suara jangrik meraung-raung. Kulemparkan pandanganku keluar, saat itu masih kelam, batang jeruk di belakang rumah masih ditutupi kegelapan subuh.

Beberapa menit sebelumnya, beliau juga sudah menyalakan TV. Presenter pembawa berita di MetroTV itu benar-benar merusak mood. Tak bisakah dia mengecilkan volume suara barang sedikit? Pekak telingaku dibuatnya.

“Ndak ka sambayang ang, Man?” Suara Abak mendarat selamat ditelingaku. Beliau menyuruh aku sholat, bukan mandi sebelum berangkat sekolah. Seingatku memang Abak cuma sering menyuruhku sholat. Giliran menyuruh mandi adalah jatah Ibu dan abang-abangku.

Mau tak mau aku harus beranjak menuju kamar mandi, berwudhu dengan setengah hati kemudian sholat dengan seperempat hati. Sisa seperempatnya lagi masih terkapar di atas kasur. Mungkin dia tak rela mimpi bertemu primadona sekolah putus tanpa tau ending ceritanya.

Sepuluh menit menjelang pukul tujuh pagi, aku, unang Rahmi dan bang Uzi sudah siap-siap berangkat sekolah. Rutenya, abangku turun di SMA 1, unang di SMP 1, Abak dan aku di SD 01. Abak adalah guru agama di sekolahku.

Secara logika badak tentu empat orang tak muat dengan jok Honda Astrea Prima yang sebesar lapek itu, namun dengan logika manusia ternyata lain cerita. Abak mengemudi, aku duduk di depan beliau. Unang di belakang Abak dan bang Uzi paling belakang. Aku tak tau apakah bang Uzi dapat jatah tempat duduk atau malah dia duduk di atas awang-awang. Hanya dia dan Tuhan yang tau.

Duduk di depan ini yang susah, bokongku sering dibuat meluncur apalagi saat Abak merem mendadak. Seeeeetttttt… Semuanya bergeser ke depan, aku malah kehilangan tempat duduk yang tak seberapa itu. Bahkan kalau kucing disuruh duduk disana, bokongnya mungkin hanya muat setengah. Setengahnya lagi mengambang di udara.

Suka duka lain duduk di jok depan, aku tak boleh membuka mulut sesuka hati. Kecolongan sedikit, serangga-serangga nakal masuk begitu saja ke mulut dan bisa tertelan. Belum lagi udara yang dingin, aku seakan menjadi tameng menghadapi sapuan angin dingin setiap pagi…
Bersambung… (entah kapan…)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut