Akhirat yang Utama

. . Tidak ada komentar:

Sekelumit huru hara "politik" Mesir membuatku "ambil jarak" dengan beberapa ulama  yang sering melontarkan statement dan fatwa yang kurang menyenangkan hati. Pantau sajalah perkembangan berita Mesir dari hari ke hari maka akan didapatkan dada ini bergemuruh dan apabila semuanya diekspresikan maka anda akan "dibully". Jadi ceritanya aku sedang menahan gejolak demi menjaga silaturrahmi antara teman-teman yang begitu memuliakan ulama-ulama itu. Ini sebenarnya yang terpenting walaupun menggalaukan.

Aku tidak membahas fitnah atau tidak tentang "barang bukti" yang ada, hanya saja aku tak kuat mempertanggungjawabkan segalanya disisi Allah SWT atas segala pembelaan kepada para ulama jika semuanya ternyata benar dan nyata. Dan semakin hari aku semakin paham atas makna pengkultusan yang ternyata mengancam prospek akhirat. Bukankah lebih baik berlepas diri dan BERHATI-HATI. Toh tak ada salahnya bukan? Justru lebih baik dari pada membela yang ternyata dikemudian hari semua terungkap faktanya.

Dan nyatanya lagi, tidak hanya dadaku yang sesak, beberapa ulama besar juga galau dahsyat dan memberikan sikap "perlawan". Maka aksi lepas tanganku semakin beralasan dan masuk akal. Walaupun sebagian orang pada akhirnya nanti mendefinisikanku tak menghargai para ulama itu dan tidak menganggapku sebagai Azhari, maka tak masalah. Biarkan saja mereka terus membenturkan antara dua yang sebenarnya tak relevan untuk dibenturkan. Masih banyak para ulama rabbani walaupun tak populer.

Sedikit mentadaburi ayat berikut:

وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۟
Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan [yang benar]. (QS. Al-Ahzab: 67)

Betapa ayat ini mendiskripsikan kondisi manusia yang begitu taat pada pembesar-pembesar dunia, mendengarkan setiap statementnya dan merealisasikan dalam kehidupan. Maka beruntunglah bagi yang mengikuti kebenaran dan celakanlah bagi pengikut kebatilan dan kesesatan. Mungkin sulit dipercaya sosok yang ilmunya menyentuh langit namun menyesatkan. Pahamilah bahwasanya ilmu dan hidayah itu adalah suatu yang terpisah. Yang berilmu belum tentu menggiring pada kebajikan dan sebaliknya. Jangan sampai ada penyesalan diakhirat kelak karena segala penyesalan tidak akan bisa mengambil hati Allah. Ini landasan utama untuk selalu BERHATI-HATI dalam menjadikan seseorang sebagai panutan yang layak diikuti. 

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلاً۬
Dan [ingatlah] hari [ketika itu] orang yang zalim menggigit dua tangannya [5], seraya berkata: "Aduhai kiranya [dulu] aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." (QS. Al-Furqan: 27)

Lagi-lagi Allah SWT mendiskripsikan manusia-manusia yang menyesal atas apa yang dia ikuti di dunia.
"Aduhai kiranya [dulu] aku mengambil jalan bersama-sama Rasul."

"Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama ulama ini-itu."

Dan lihatlah ekpresi penyesalan mereka, mereka menggigit kedua tangannya. Lebih ekstrim dari pada sekedar menggigit jari yang meansteam kita dengar.

أَللَّهُمَّ اَرِناَ الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَاَرِنَا الْباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ
“Ya Allah perlihatkan kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kami jalan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berilah kami jalan untuk menghindarinya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut