BJ Habibie diujung Penaku

. . Tidak ada komentar:


"Nasionalisme itu urusan tahun 1928 dan sebelum tahun 1945. Hari ini yang kita persoalkan bukan nasionalisme lagi, tapi produktivitas!"
"Saya tidak tertarik membicarakan masa lalu. Fokus saya adalah masa kini dan masa depan."
-Bapak BJ Habibie-

Unforgettable moment! Alhamdulillah
waktu itu (6/6/2011) aku diberikan kesempatan bertatap muka dengan salah seorang aset terbaik bangsa Indonesia, beliau adalah Bapak Prof. Dr. Ing. BJ Habibie. Aku sering berpikir, sebuah kemustahilan bisa bertemu dengan sosok yang mungkin namanya lebih harum di luar negeri sana ketimbang di tanah airnya sendiri. Dan hari itu aku bertemu.  Al-Azhar Conference Centre, Cairo adalah saksi atas mengalirnya ribuan volt semangat dan motivasi dari beliau.

Diusia yang saat itu mendekati 75 tahun, performa beliau terlihat masih muda, energik dan bersahaja. Beliau punya teori komunikasi yang khas, penuh ekspresi dan mengundang tawa. Deretan kata-kata beliau memenuhkan kepala, memancing adrenalin ala motivator tingkat dunia. Makin pitar kita menangkap kata-katanya, makin besar peluang menjadi Habibie-Habibie selanjutnya. Satu yang disayangkan, Jerman lebih menghargai sosok seorang Habibie dan Indonesia hanya bisa "menjual" aset-aset berharga termasuk manusia-manusia jenius yang seharusnya bisa mengubah batu menjadi mutiara. Tentang rumah 6 tingkat yang 3 tingkatnya berada dibawah permukaan tanah dan ada kolam renang ditingkat dasar itu? Yang demikian adalah salah satu bentuk kecil penghargaan Jerman kepada Eyang kita itu.

Ada sesi pemutaran video karya putra putri bangsa. Aku yakin negara  kita akan menjadi negara terhormat dan maju kalau kita punya presiden yang independent dan punya nyali menerobos tembok kebodohan.

Point-point berharga yang sempat kutangkap:

1.       Mewujudkan SDM Berkualitas

Sumber daya manusia yang berkualitas adalah ujung tobak kemajuan suatu bangsa. Berkualitas apabila bisa memadukan unsur agama (imtaq), norma/budaya dan ilmu pengetahuan (iptek) menjadi satu kesatuan utuh.  Sebuah anologi angka seseorang yang hidup dalam lingkungan yang sama, tetapi berbeda kualitas. Yang membedakan adalah sinergitas 3 ungsur tadi sehingga beliau membuat sebuah rumus:
1. 1+1+1=3 Itu menunjukkan kualitas yang biasa-biasa saja.
2. 1+1+1=3000 Inilah kualitas super power yang memiliki sinergi positif memadukan imtaq, budaya dan iptek. Mirip analogi angka yang pernah saya kenal: 1+1=2 bagi ahli matematika. Namun berbeda dengan politikus, 1+1=3 atau 4 atau bisa jadi lima dan seterusnya. Walaupun anologi ini juga kurang pas dan tak relevan dengan anologi Pak Habibie. Dan akumulasi dari segalanya adalah terbentuknya produktifitas kerja.
3. 1+1+1= -35 Ini pengibaratan apabila bersinergi dengan unsur-unsur negatif.

2.       Kesetiaan dan cinta

Pak Habibie sedikit bercerita tentang sepenggal kisah cinta. Beliau mengisahkan tentang Bu Ainun yang selalu setia membacakan Al-Qur'an saat beliau belajar. Saat itu beliau mengibaratkan Bu Ainun adalah musik Jazz yang selalu memberikan irama-irama harmoni yang memberikan kekuatan. Relevan dengan sebuah istilah, "Dibalik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada seorang wanita yang luar biasa." Seperangkat kisah cinta berlanjut sampai Bu Ainun meninggal dunia.

Salah satu kutipan yang menarik dari beliau dan merepresentasikan kecintaan kepada istri tercinta, "Saya ingin berbuat sebelum saya dipanggil oleh pemilik saya, Allah Swt., sebelum nanti saya berkumpul kembali dengan istri saya tercinta."
Hanya itu yang bisa kuingat tentang pertemuan singkat penuh makna itu. Sekian. :)

Kairo, 5 September 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut