Bersama 3 Penulis Legendaris

. . Tidak ada komentar:
Dokumen FLP (Facebook)
Tak disangka dalam waktu yang berdekatan saya bisa bertemu dengan 3 orang penulis legendaris tanah air. Kalau dipikir-pikir, di Indonesia saja mungkin saya takkan pernah berjumpa dengan 3 sosok yang kujadikan idola ini, tapi alhamdulillah berkat izin Allah kami dipertemukan dan itu pun di luar negeri (Kairo-Mesir). Kalau Allah berkehendak mempertemukan hamba-hamba-Nya maka jadilah, walaupun di tempat dan waktu diluar nalar manusia. Iya nggk? Layaknya pertemuan dua orang insan, tak disangka-sangka sebuah ikatan suci bisa saja terhubung antara dua keluarga dari dua kutub yang berbeda. Hehehe

Bersama Salim A. Fillah
Ust. Salim adalah penulis non-fiksi favorit saya. Sebelum memasuki Gaza bersama tim Sahabat Al-Aqsha, beliau mampir beberapa hari di Mesir dan menyempatkan mengisi talk show di hadapan Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) tanggal 22 Desember tahun lalu. Dalam talk show singkat itu beliau menyampaikan banyak sekali pengalaman, cerita dan segala hal tentang kepenulisan. Dua hal yang paling saya ingat dan paling mengesankan adalah:

1. Cerita tentang proses beliau menuju seorang penulis terkenal. Ust. Salim sudah terbiasa menulis sejak duduk dibangku SMP. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga SMA dan perguruan tinggi. Yang paling membuat saya tak habis pikir adalah setiap kali beliau mengirim artikel, opini, cerpen dan berbagai jenis tulisan ke media, tak satupun tulisan itu diterima redaksi. Sebagai wujud "frustasi" akhirnya beliau hanya bisa memuat tulisan-tulisan itu dimading-mading atau diselebaran-selebaran yang kemudian beliau publish sendiri.
Melihat kegigihan itu, salah seorang senior sesama aktivis dakwah kampus di Yogjakarta nekat untuk menyepakati "nota kesepakatan" mendirikan sebuah penerbit yang sekarang terkenal dengan Pro-U Media. Beliau "didaulat" sebagai penulis dan senior beliau (Muhammad Fanni Rahman) sebagai penerbitnya. Maka jadilah keduanya mengelola penerbitan itu hingga terbit buku pertama yang berjudul "Indahnya Pacaran Setelah Menikah" (2003). Selanjutnya buku "Agar Bidadari Cemburu Padamu" (2004) dan buku-buku lain termasuk buku favorit saya yaitu "Dalam Dekapan Ukhuwah". Dari sini saya mengambil sebuah point penting bahwa, jangan sampai kita putus asa dalam hal penerbitan tulisan. Kita bisa exist diblog, Kompasiana, Blogdetik dan lain-lain secara bebas. Kita harus ingat bahwa betapa banyak artis yang naik daun bermula dari Youtube termasuk Justin Bieber!

2. Tentang background akademis Ust. Salim. Sejak SD-PT beliau mengenyam pendidikan di istansi pendidikan umum (non-agama), namun wawasannya tanpa batas,  mengalahkan para penuntut ilmu agama kebanyakan. Sepertinya beliau sangat paham sejarah Islam, Ushul Fiqh dan ilmu-ilmu lain. Maka tak heran kalau beliau begitu lihai memadukan kisah dan ayat dengan gaya penulisan yang indah dan menyentuh disetiap tulisan-tulisannya.

Bersama Habiburrahman El-Sirazy 
Sejak selesai shooting  film KCB di Mesir pada tahun 2004, Kang Abik tak pernah lagi ke Negeri Piramid ini. Dipertengahan Januari akhirnya beliau punya kesempatan melepaskan kerinduan dengan tanah tempat beliau dulu pernah kuliah, disamping juga ada tujuan hunting buku di Cairo International Book Fair dan mengurus beberapa urusan bersama tim Komisi Penerbitan Indonesia (KPI).

Tanggal 22 Januari 2013 diadakanlah talk show bersama mahasiswa Indonesia di Mesir. Sebelumnya sih sudah ada silaturrahmi bersama keluarga Sinai Mesir karena beliau adalah salah satu alumni terbaik lembaga kajian Timur Tengah itu. Sayangnya saya tak bisa hadir karena waktu itu ada kegiatan yang dempet (red: tidur. Hahaha). Nah, dikesempatan terakhir itu saya hadir. Saat itu beliau lebih fokus pada pengalaman menuju novelis legendaris bahkan sutradara film profesional. Tidak banyak yang bisa saya ingat tentang hari itu, tapi ada satu ungkapan beliau yang tak terlupakan, "Menulislah! Karena menulis adalah budaya para ulama."

Bersama Pipiet Senja
Kehadiran Bunda Pipiet Senja di Mesir tak lepas dari kegigihan teman-teman komunitas Semesta Menulis. Waktu itu Mesir dalam keadaan kacau balau. Demo besar-besaran terjadi dibeberapa titik untuk menumbangkan presiden Mursi. Namun dengan segala pergolakan itu alhamdulillah Bunda Pipiet Senja dan rombongan (Bunda Sastri Bakry, tim RRI dan Republika) tetap berangkat ke Mesir demi memenuhi undangan mahasiswa Indonesia disini.

Waktu itu tanggal 1 & 2 Juni. Dalam 2 hari itu diadakan kelas itensif kepenulisan (fiksi-non fiksi) dan broadcasting. Fiksi diisi oleh Bunda Pipiet dan Bunda Sastri Bakry. Adapun non-fiksi diisi oleh Bpk. Iwan Kelana (wartawan Republika) dan broadcasting diisi oleh tim RRI. Dalam dua hari itu, yang menjadi daya tarik bagi saya bukan pada materi kepenulisannya, tapi lebih pada kisah inspiratif Bunda Pipiet senuju seorang penulis besar.
Diceritakan bahwa beliau sejak lahir sudah mengidap suatu penyakit yang dinamakan thalassemia. Thalassemia sendiri merupakan salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal. Tentu penyakit itu memberikan dampak yang besar pada kelangsungan hidup beliau. Tak terhitung lagi berapa kali tranfusi darah yang dilakukan. Bahkan penyakit itu mengharuskan beliau untuk rela kehilangan limpa dan kantung empedu. Satu persatu organ vital harus diangkat. Entahlah berapa rupiah kalkulasi biaya yang harus ditanggung sejak beliau kecil hingga sekarang.
Yang paling menarik dan mengharukan adalah ketika seorang dokter memvonis bahwa umur Bunda Pipiet tak lama lagi. Namun yang beliau lakukan adalah meminta phone cell yang ada aplikasi note-nya dan beliau menulis melalui itu. Dari 130 buku yang beliau tulis, 90%-nya digarap saat dalam keadaan sakit. Satu pelajaran yang dapat diambil bahwa tak ada alasan untuk tidak berkarya. Bukankah kesehatan itu suatu yang harus disyukuri? Bukankah waktu itu terasa berharga saat kita tak lagi bisa menikmatinya? Berkarya adalah bentuk syukur kawan!

Pesan lain yang bisa saya tangkap adalah cerita Bunda Pipiet tentang TKI di Hongkong yang begitu semangat menulis. Buntut dari suatu pelatihan kepenulisan di negara itu akhirnya tercipta sebuah karya yang mengegerkan istana presiden. Buku itu berjudul "Surat Berdarah untuk Presiden" yang merupakan kisah nyata para "Pahlawan Devisa" disana. Dari sini saya mendapat keyakinan bahwa TKI saja bisa mengapa saya mahasiswa tidak bisa berkarya?

Dalam tulisan ini juga saya juga menyampaikan pesan seseorang yang menemani Bunda Pipiet kala itu yaitu Bunda Sastri Bakry. Beliau berpesan bahwa untuk menjadi seorang penulis kita harus meluangkan waktu khusus untuk menulis. Logis bukan? Karena menulis dengan sisa-sisa waktu yang ada tidak akan mengkasilkan karya yang maksimal.
Kalau boleh disimpulkan dan juga tambahan dari saya, menjadi seorang penulis itu kita harus memenuhi beberapa hal, diantara:
1. Memulai menulis! Dan itu juga harus diiringi dengan banyak membaca. Sebenarnya pelatihan kepenulisan itu tidak seberapa penting, yang penting itu adalah MENULIS-nya itu lho. Betapa banyak dan betapa sering orang mengahadiri pelatihan, namun tak  menghasilkan apa-apa. Tindak konkritnya nol besar.
2. Menjaga semangat menulis. Dalam pertemuan itu juga Bunda Pipiet menyindir siapa saja yang beralasan tak bisa menulis karena tak punya laptop. Padahal bisa minjam atau nulis via HP. Berdasarkan pengalaman, saya lebih aktif menulis dan tulisan saya lebih terasa hidup saat masih minjam laptop sana sini dan ngetik pakai HP. Dan juga, jangan putus asa kalau tulisan kita tak pernah diterima penerbit atau redaksi media. Toh kita bisa publis via blog, Kompasiana dan lain-lain. Bahkan di Mesir ini banyak teman-teman yang menerbitkan buku sendiri dengan jasa photocopy.
3.    Berfikirlah untuk memaksimalkan waktu selagi sehat. Logikanya, saat sehat saja kita malas menulis apalagi saat sakit. Intinya, maksimalkan waktu yang ada dan berikan alokasi waktu khusus untuk menulis.  
Kairo, 10 September 2013
 _____________________
Berikut dokumentasi fotonya. Sangat menyedihkan karena tak semua photografer berhati mulia. Cuma photografet foto pertama yang bisa saya banggakan karena saya kelihatan jelas. Hehehe






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut