Bagaimana Nasib Kuliahku?

. . Tidak ada komentar:
Wisuda Mahasiswa Al-Azhar tahun 2011
"Lai kok ka salasai kuliah awak saandainyo Mesir rusuah taruih?" – "Akankah kuliah kita akan selesai kalau Mesir terus rusuh?"- 

Itu adalah salah satu rangkaian percakapanku dengan seorang sahabat disuatu hari yang senyap setelah kudeta militer Mesir, 30 Juli. Aku tak lupa kata-kata itu, selalu ingat dan akan tetap ingat.

Aku mendengar cerita tentang mahasiswa Indonesia di Suriah. Kebrutalan Basyar El Assad menghancurkan masa depan mereka. Sebagian besar kembali pulang ke tanah air dan hanya dua puluhan yang benar-benar kokoh disana. Dan diantara yang pulang, mereka yang sudah tamat S1 dan belum sempat mengurus ijazah kelulusan. O malangnya. Dan hari ini kisah itu begitu menghantuiku ditambah lagi statement sahabatku tadi, "Akankah kuliah kita akan selesai kalau Mesir terus rusuh?" 

Kukira dulu setelah revolusi 25 Januari, itu akan menjadi titik terang kebangkitan peradaban Mesir. Setahun, dua tahun berlalu bagaikan angin dan selanjutnya kudeta terjadi begitu saja. Ya, begitu saja. Tubuh ini bergetar saat ribuan rakyat Mesir gegap gempita merayakan lengsernya presiden Morsi dengan kembang api, petasan dan konvoi kendaraan bermotor. Mereka ini yang ku maksud korban propaganda media. Mereka merayakan hari perpindahan otak menuju dengkul mereka masing-masing! Sinting! Dan kini demostrasi anti kudeta terus bergulir. Agaknya mereka tak ambil pusing dengan tragedi pembantaian di Monumen Pahlawan, Rab'ah, Nahdhah, Ramsis dan lain-lain. Akhirnya? Kapan semua ini akan berakhir? Bagaimana nasibku dan nasib mahasiswa Indonesia di tengah huru-hara seperti ini. Bagaimana nasib kuliah kami? Akankah besok rakyat akan mengangkat bedil dan menyerbu serdadu berseragam hitam-putih? Akankah Mesir akan menjadi Suriah kedua?

Kemaren malam juniorku mengabarkan bahwa orang tuanya telah memberikan lampu hijau untuk pulang dan kuliah di tanah air. Bagaimana tidak, orang tua mana yang tidak resah dengan pemberitaan Mesir yang penuh kemelut sedangkan buah hatinya disana? Dan ini yang kutakutkan, bagaimana kalau aku juga disuruh pulang? Sebegitu suramkah nasib perkuliahanku? Bagaiman mungkin aku akan pulang sedangkan sahabat-sahabat seletinganku di pesantren dulu akan wisuda satu semester lagi? Ah… Melalui tulisan ini aku hanya ingin menumpahkan segala alusi dan beban dihati. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Kumemohon kepada Allah SWT agar diberikan kesabaran dalam menuntut ilmu di bumi para nabi ini. Amin. Lain kali aku akan bercerita tentang rumitnya kuliahnya di Universitas Al-Azhar ini. Sekian. 

Kairo, 3 September 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut