Jordan Under Cover

. . Tidak ada komentar:


Beberapa hari yang lalu, seorang teman (senior tepatnya) menceritakan 10 hari pertualangannya di Yordania. Ceritanya sangat menarik dan membuka mata hingga aku semakin bersyukur bisa kuliah di Negeri Firaun ini.   

Nama singkatnya Defri. Dia telah menamatkan S1 di Medan dan ingin melanjutkan S2 di Mesir. Setelah setahun berada di Mesir dia melihat tantangan untuk menyesaikan S2 disini begitu berat dan butuh perjuangan. Setidaknya memakan waktu 4-5 tahun untuk menyabet gelar master, bahkan sampai 6 tahun, 7 tahun dan seterusnya.

Setelah mencari peluang S2 yang relatif hemat waktu diberbagai negara Arab, hatinya berlabuh di sebuah negara di selatan Suriah, Yordania tepatnya. Menurut informasi yang didapatkan, S2 disana relatif cepat. Gelar master bisa didapat dalam waktu 2 tahun saja.  

Perjalan dimulai pada tanggal 4 September. Berbekal tiket pesawat seharga $200 dia tebang sendiri ke Yodania melalui Cairo International Airport. Hanya dibutuhkan dua jam untuk bisa mendarat di negeri itu.

Yordania ialah sebuah negara di Timur Tengah yang berbatasan dengan Suriah di sebelah utara, Arab Saudi di timur dan selatan, Irak di timur laut, serta Negeri Zionis dan Tepi Barat di barat. Seperti yang diceritakan bahwasanya negara kerajaan itu adalah negara pegunungan, sangat jarang ditemukan daerah yang datar dan landai seperti di Mesir, di kota Amman sendiri juga berbukit-bukit.

Negara yang terkenal dengan Laut Mati-nya itu ternyata memiliki nilai tukar uang yang tinggi. 100 dollar setara dengan 70 jidi (mata uang Yordan). Walaupun demikian, biaya hidup disana ternyata juga sangat tinggi bahkan kehidupan disana tidaklah lebih sejahtera dari pada Mesir. Bayangkan saja, Rp. 5.000.000/bulan merupakan biaya hidup pas-pasan disana. Segalanya mahal, sewa rumah sederhana di Yordan sama dengan rumah ber-AC di Mesir. Pantas saja hanya 70-an WNI yang berminat melanjutkan study disana dan itupun orang-orang kaya yang sebagian mereka punya mobil pribadi. Salah seorang anak Ust. Luthfi Hasan Ishaq ternyata juga kuliah disana.

Dari segi transportasi, negeri yang terkenal dengan goa Ashabul Kahfi itu juga tidaklah lebih baik dari Mesir. Kata temanku itu, untuk angkutan umum, tidak ada bus, angkot, motor dan sebagainya, cuma ada taksi! Sesuai pengalamannya, pembayarannya tidak pakai sistem argo, tapi pakai sistem kesepakatan dan itupun mahal. Jarak tempuh satu kilometer bisa merogoh kocek Rp. 30.000 kalau dirupiahkan. Kalau tak salah begitu katanya.

Kita masuk soal interaksi sosial masyarakat. Masyarakat Yordania (dan masyarakat Arab kebanyakan) adalah pribadi-pribadi yang cool dan cuek. Kita tidak akan ditegur sapa, dicandai dan sebagainya. Mereka sangat membosankan dan sangat tidak komunikatif. Bisa dibayangkan kalau kita hidup sedangkan kita dianggap seperti benda mati.

Dari segi sumber daya alam, tak ada yang bisa dibanggakan, bahkan air pun susah. Temanku itu menceritakan bahwa kalau mandi saja harus menunggu tetes demi tetes air. Awalnya aku tak percaya, tapi memang seperti itu kenyataannya, aku percaya saja. Kalau dari sektor pariwisatanya lumayan berkilau, ada Laut Mati, Petra, Goa Ashabul Kahfi, Roman Theater dan Hercules Temple.

Nah, kita masuk pada sisi pendidikannya. Management pendidikan disana bisa dikatakan lumayan bagus. Untuk kuliah jurusan ekonomi Islam, salah satu universitas di Yordania adalah rujukan di seluruh dunia. Satu yang perlu dicatat, jangan berharap mendapatkan peluang beasiswa disana. Kalau pun mau, kita harus mendapatkan rekomendasi khusus dari Bpk. Din Syamsudin  dan memperebutkan 5 jatah beasiswa bersama putra putri terbaik Muhammadiyah. Beruntung kalau anda kader Muhammadiyah, kalau tidak? Syaratnya, IP komulatif S1 anda harus cumloude kalau ingin melanjutkan S2. Kira-kira seperti itu informasi yang kudapat.

Singkat cerita, setelah bermukim selama sepuluh hari disana dan mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan, tanggal 14 dia memutuskan kembali ke Kairo dan membatalkan rencana kuliah di Yordan. Dia merasakan ternyata Mesir jauh lebih baik. Kalau boleh bercerita sedikit, Mesir memang tak ada duanya. Semiskin-miskinnya Mesir, namun peluang beasiswa banyak, biaya hidup murah, sumber daya air melimpah, tempat wisata keren abis dan interaksi sosial bagus. Aku yakin bahwa masyarakat Mesir adalah warga negara paling komunikatif sedunia. Lain kali akan kuceritakan tentang Mesir secara gamblang.

Point pentingnya, kadang aku sering mengeluh dengan segala kondisi Mesir saat ini. Ternyata setelah mendengar cerita temanku tadi, aku menjadi lebih banyak bersyukur dan tau diri. Alhamdulillah. Temanku itu dengan jujur mengatakan bahwa saat tinggal beberapa hari di Yordania, dia merasakan kerinduan yang sangat pada Mesir karena Mesir sangat berbeda dan punya pesona tersendiri. Dia merasakan sekali bahwa nikmat akan sangat terasa saat kenikmatan itu sudah hilang dari genggaman. Dan alhamdulillah sejak beberapa hari lalu dia sudah kembali merasakan hangatnya pelukan Mesir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut