Surat Cinta Pelecut Semangat

. . 1 komentar:
Assalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh

Sudah lama kita berpisah Bang...
Tanpa terasa waktu bergulir cepat...
Satu tahun yang lalu abang berangkat ke seberang sana meninggalkan ana dalam linangan air mata...
Ini surat pertama yang ana tulis bang, karena bagi ana abang merupakan sosok manusia luar biasa yang ana temui. Entah kenapa ana begitu nge-fans sama abang (bangga ya jadi artis) Hehehe...

Sejak awal bertemu dulu, di Kucil (tau kan kepanjangannya), ana kagum sama bakat-bakat abang. Sampai-sampai, sekarang sebauh kaligrafi abang masih kokoh ana abadikan di pintu surau. Dan akhirnya ana bertemu abang di PIAR. Kita sama-sama bermesra di jalan dakwah merajut ukhuwah. (Wuihhh,,, Kerenkan bahasanya?) hanya sebentar saja rasanya, abang pun tamat saja dari PIAR dan pergi terban ke benua yang dikenal orang sebagai benua orang ras hitam alias Negro. (Walau ana juga hitam bang, tapi mereka lebih pekat dari ana. Hehehe)

Dah dulu Bang. Jangan pernah lupain ana dan kampuang ana tercinta. ABANG HARUS HAFIDZ sebelum ana hafidz. Dan yang terpenting adalah jangan lengah akan peluang-peluang yang ada bang Bang. Pertahankan sikap cool abang. Semangat dan tetap ceria. Bang Salman Al-Hafidz, jika murung ingat ana. I ngepen to you... Hehehe...

TTD 93
Surya.

*****************
*Saya terharu dulu yaa* -_-
OK... Terharu selesai dan saya akan sedikit bercerita:

Surat ini saya terima akhir bulan Oktober tahun lalu dari adik kelas generasi 5 (Brive) yang sangat luar biasa. Semangatnya menyala-nyala, senyumannya mengalihkan dunia dan ia adalah sosok tak pernah mengeluh. Saya kagum akan ambisinya untuk segera menyelesaikan hafalan Al-Qur'an. Sebelum berangkat ke Mesir, dia menantang saya dan Wafi untuk berpacu dalam menghafal Al-Qur'an. Siapa yang pertama menyelesaikan hafalannya maka dia akan mendapatkan hadiah dari yang kalah. Enteng saja, saya menerima tantangan itu! Akhirnya disepakati kalau dia hafidz duluan maka saya akan menghadiahkan sebuah HP kepadanya dan Wafi akan menghadiahkan laptop tercanggih pada zamannya. Hah... Ternyata saya masih kurang bisa memberikan penghargaan yang terbaik kepada sosok yang hafal ayat-ayat Tuhannya. HP VS Laptop.  -_-

Semenjak itu, kami berpisah dan tak pernah bertemu bahkan belum sempat berkomunikasi lagi walau via FB. Disisi lain saya juga tidak bisa menerima kenyataan dan malu. Sampai detik ini saya masih belum bisa menyelesaikan hafalan itu. Entahlah dengan dia, mungkin dia sudah hafidz  atau hafalannya melebihi hafalan saya. Astaghfirullah.

Yang jelas, satu tahun kedepan saya harus menyelesaikan hafal Al-Qur'an. Semoga Allah mudahkan saya, Wafi, Surya dan semua umat manusia yang bertekat kuat untuk menjadi seorang HAFIDZ. Amin...

Terimakasih buat adik kelasku tercinta, Surya Fajrin. Tadi pas bongkar-bongkar arsip, ketemu suratmu. Ketika membaca ulang, semangat ini kembali berkobar-kobar. Ternyata kita memang harus HAFIDZ! Semangat! Maaf suratnya nggk terbalas :D         

1 komentar:

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut