Shouturrisalah for Palestine

. . Tidak ada komentar:
Masih ingat dulu saat saya berangan-angan bisa bernasyid di Al Azhar Conference Centre. Saking kuatnya angan-angan itu saya menuangkannya dalam sebuah catatan berjudul Dai Nada VS Ak 47.

Maha Besar Allah dengan segala kekuasaannya. Allah bersama prasangka hamba-Nya, tak sampai satu tahun Allah menjemput mimpi saya dan kami para personil tim nasyid Shouturrisalah. Dalam moment konser amal Opick for Palestine, ikhwah disini memberi kesempatan kita perform. Senangnya tak kepalang. Sejak itu kita mulai latihan untuk persiapan tampil di 2 kota. Di Kairo bertempat di Al Azhar Conference Centre dan di Iskandaria bertempat di Beblotecha Grand Hall.

Kesempatan ini pun akhirnya menjelma menjadi sebuah tantangan besar. Shouturrisalah akan sepanggung bersama Opick, musisi terkenal Indonesia dan Dai Nada, tim nasyid kenamaan yang menjadi duta kebudayaan Mesir. Dai Nada sudah memiliki jam terbang ke berbagai belahan dunia seperti Jerman, Swiss, Perancis, Cina, Al Geria dan belahan dunia lainnya. Kami hanya pendatang baru dengan gendre haraki yang belum dikenal banyak kalangan. Tentu ini akan menjadi beban mental. Saya pribadi gugup, entahlah dengan yang lain.

Perform perdana menuntut sebuah kesempunaan. Dalam kesibukan sebagai panitia konser dan juga panitia HUT KMM, kita mencoba meluangkan waktu untuk latihan. Disaat-saat sulit mencari waktu kosong, maka dalam periode waktu menjelang hari H sering terjadi cekcok atau pertengkeran kecil diantara kami. Saya pribadi berpesan kepada teman-teman, "Kita akan berdiri dihadapan 1200-1600 pasang mata. Jangan sampai membuat malu!" Dan saat putus asa mencari waktu luang, saya sempat mengatakan akan undur diri saja dari tim.

Alhamdulillah mendekati hari H kesibukan semakin berkurang. H-2 kita kembali kompak, harmonisasi suara dan kareografi lebih dimaksimalkan. Kita juga menyempatkan ke studio beberapa kali. Alhamdulillah ada kemudahan bahkan kostum yang seharusnya dibeli, diberikan gratis oleh KNRP setelah melobi Ustad. Ali Amril, manager Izzatul Islam.

Hari H tiba. Tanggal 3 April 2013 adalah jadwal konser Opick for Palestine di Kairo dan bertempat di ACC. Saya pribadi masih merasakan kekurangan. Lirik nasyid yang akan dinyanyikan pun kadang masih lupa-lupa. Jadwal latihan yang padat membuat suara pada hari itu kurang prima. Belum lagi kareografi, saya sendiri masih kaku dalam hal ini.

Detik-detik menjelang perform saya masih gugup. Bang Muttaqin (pelatih) dan Bang Syukron menguatkan kami. Ya sudahlah, hadapi saja. Persetan dengan kata-kata gugup dan grogi. Seharusnya dua kata ini tak pernah ada di dunia ini. Cling!! Dalam waktu singkat tiba-tiba kita sudah berada di atas panggung. (Kayak jin aja. Nggk segitunya kali! :D )

Kali ini kita membawakan tiga nasyid. Al Aqsha Memanggil, Bebas dan Merdeka dan Mars Pemuda Islam. Ketiga-tiganya merupakan lagu Izzatul Islam. Saat intro, terdengar ada sesuatu yang janggal, pukulan drum terlalu keras. Barangkali ini yang membuat tarikan suara tak harmoni, terkesan berteriak karena terpengaruh tabuhan drum yang cukup kuat. Olehnya tak salah ketika Pak Mustafa Abdurrahim (wartawan Kompas) yang duduk dibarisan VVIP menutup telinganya rapat-rapat. Tamu VVIP lainnya juga kelihatan resah dan kurang nyaman. -_- (Sorry Bapak-bapak, Ibu-ibu Hehehe) Dan yang paling menyedihkan adalah antusias penonton yang sangat kurang. Nasyid semangat ini hanya disambut oleh pemilik wajah-wajah datar tanpa ekspresi. Cuma sedikit yang kelihatan bersemangat dan itu pun para akhwat dengan mengibar-ngibarkan bendera Palestina. Kaum laki-laki?? Ah… SAYA KECEWA -_- *Terimakasih kepada Akhwat semuaaaaa. Antunna TERBAIK memang!* Dan satu hal yang tak boleh dilewatkan adalah saya berdiri disamping Opick saat lagu kolaborasi.

Keesokan harinya di Alexandria. Beberapa jam menjelang konser Opick for Palestine di Beblitheca Grand Hall, sudah ada kabar bahwa perform Shouturrisalah dicancel. Saya bisa pastikan bahwa ini adalah buntut dari penampilan di Kairo yang kurang memuaskan. Dan akhirnya setelah melobi pihak KNRP, kita masih bisa tampil dengan syarat memaksimalkan dua nasyid saja. Ya sudah, kami memilih Bebas da Merdeka dan Mars Pemuda Islam. Sepanjang waktu yang tersisa kita terus berlatih. Ust. Ali Amril (Manager Izzatul Islam) dan Ust. Iswan sempat memberi pengarahan dan bimbingan. Intinya jangan over, pede aje dan tak usah canggung.

Berbekal pengalaman dihari sebelumnya, arahan-arahan dan koreksian pada penonton, Alhamdulillah kami tampil cukup memuaskan walaupun masih ada kekurangan. Ust. Ali Amril memberi jempol dipenghujung nasyid walaupun saya rasa kami tak layak mendapatkannya. Penonton juga kelihatan sangat antusias sekali. Daaaaan…

Sudahlah, bosan bercerita panjang lebar! TAMAT!







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut