Motivasi Pejuang

. . Tidak ada komentar:


Motivasi adalah unsur terpenting dalam perjuangan seorang muslim.  Layaknya keimanan yang kadang berkurang dan bertambah, motivasi pun demikian. Ada saatnya kita berada dalam kondisi onfire dan ada saatnya kita berada dalam kondisi bad mood hingga menghalangi langkah kita untuk menapaki jalan perjuangan menyongsong cita-cita dan masa depan.

Ini tentang motivasi yang hilang menguap bersama partikel-partikel udara kefuturan. Sering kali kita kurang bijak dan cenderung cengeng dalam menyikapi. Mengapa aku tidak semangat? Mengapa aku tak seperti yang dulu? Kenapa? O kenapa? Bahkan terlontar dari relung-relung rongga mulut kita, "Maaf teman, aku lagi futur, nggk ada motivasi…" Ingat sobat! Kita adalah panah-panah yang siap dilepas dari busur. Kondisi akan menuntut kita untuk terus bergerak dan melaju ada atau tidak adanya motivasi. Dilematis memang, tapi ini adalah tantangan dan kita harus bijak! Tak ada motivasi artinya diam, mati, stagnan! Ketika orang lain sudah melaju kembali setelah pengisian "bahan bakar" dalam tempo waktu yang relatif singkat, kita dengan lidah kita yang manja masih melontarkan, "Maaf teman, aku lagi menunggu motivasi…". Sungguh tragis dan tidak bijak!

Jutaan mulut mengatakan bahwa, "Motivasi terbesar adalah dari diri kita sendiri". Dan statement ini sangat singkron dengan naluri seorang pejuang sejati. Pejuang yang kenal dengan potensi dirinya, akrab dengan kesilauan prospek masa depannya maka dia akan segera menekan pedal gas dan melaju mengejar ketertinggalan dalam sirkuit perjuangan. Ingat! Kehidupan ini adalah milik kita, suram atau indahnya hidup ada ditangan kita masing-masing bukan ditangan orang lain. Karena "Motivasi terbesar adalah dari diri kita sendiri!"

Karena kita adalah pejuang sejati maka kita harus pintar merefleksikan ayat-ayat Allah dalam menset pikiran dan hati. Al-Qur'an dan semesta adalah teman sejati dalam ekspedisi menuju puncak kesuksesan. Penggalan ayat "fastabiqul khairat" saja mungkin cukup untuk menegangkan kembali sesuatu yang kendor. Seekor burung pun ikut andil dalam menyampaikan pesan pengorbanan dengan prinsip "pergi pagi pulang petang". Artinya, setiap apa yang Allah ciptakan adalah motivasi bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir lagi bersyukur.

Karena kita adalah pejuang sejati maka kita harus bisa menimbang diri. Mengukur kelayakan dan kepantasan. Pantas tidak? Kita duduk-duduk saja sementara bala tentara  nyaman dengan baju zirah dan terpesona dengan percikan-percikan api pedang dalam pertempuran yang sangat menentukan? Pantas tidak? Kita menggantikan posisi-posisi strategis yang biasanya dipegang oleh insan-insan militan yang memiliki kapabelitas tak tertandingi sekaliber Umar Bin Khattab? Tak sebanding memang, tapi pantaskah?

Sadar atau pun tidak, semakin jauh masa dengan era Rasulullah maka kualitas pribadi-pribadi muslim semakin merunduk, kecuali ada tanda-tanda ketika agama ini kembali berjaya di tampuk keemasan. Ingat masa ketika para ulama menjejaki pasir-pasir kering demi sepotong sabda kekasih Allah. Ingat masa ketika Imam Syafi’I menunggangi keledai dan menyisakan darah di punggung keledainya demi sebongkah ilmu. Merekalah pejuang sejati itu yang mana obsesinya mendahului langkah kakinya. Sekali lagi, pantaskah? Layakkah?

Jadilah pejuang yang bijak, karena kebijaksanaan kita adalah representasi dari silaunya masa depan.

Kairo, 23 September 2012 [09:40 CLT]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut