Israel Sebutir Debu

. . Tidak ada komentar:
Gaza, wilayah sempit dengan luas 365 km2 ini akan selalu sorotan dunia terkhusus Israel. Secara geografis, wilayah kecil ini memiliki posisi yang sangat strategis terutama dalam pembentukan Israel Raya. Dalam master plan Zionisme, Israel Raya terbentang antara sungai Nil dan sungai Eufrat. Maka tak heran bila mata dunia termasuk Indonesia tertuju pada wilayah ini. Segala dukungan materil dan moril diberikan supaya eksistensi Palestina tetap dipertahankan.  Apabila Gaza ditaklukkan, maka ekspansi Israel akan meluas ke negara-negara Islam lain terutama yang berada di tanduk benua Afrika.



Lima tahun terakhir, dunia dengan mata terlanjang menyaksikan segala kedunguan "negara" Israel. Benjamin Netanyahu pasti membaca sejarah bahwa semua penjajah akan kembali ke "kandang" mereka masing-masing. Disisi lain mereka juga berfikir bahwa Yahudi sendiri memang tak punya tempat kembali, tidak punya tanah air! Dengan terpaksa pemegang estafet kekuasaan ilegal di tanah Palestina itu harus lebih membekukan otak dan hatinya. Memberangus segala macam ancaman, rakyat sipil, Hamas dan simbol-simbolnya seperti Ahmad Jabari yang sudah berhasil dibunuh.

Perang Hajaratus Sijjil dipenghujung Desember lalu kembali meyakinkan dunia bahwa tanah Palestina sebentar lagi akan kembali dalam genggaman umat ini. Iron Dome tak kuasa menangkal rudal Fajar-05, rudal-rudal rakitan Hamas sudah berani menyerbu jantung Kota Tel Aviv dan kediaman Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak.

Sistem keamanan militer Israel berhasil disusupi, Gilad Shalid, kopral Angkatan Pertahanan Israel (IDF) berhasil "diculik". Sayeret Matkal yang merupakan pasukan khusus Israel dan ranking keempat dari 10 pasukan khusus terbaik dunia ternyata tidak ada apa-apanya.

Disaat bersamaan, ratusan situs-situs Israel berhasil diretas oleh kelompok yang menamakan diri mereka dengan Anonymous. Pembobolan data base bank, pengambil alihan saluran televisi. Semua menunjukkan kelemahan proteksi Israel dalam berbagai lini. Dan sebaliknya, Palestina semakin kuat.

Kehadiran Presiden Mesir, Muhammad Morsi semakin memperkuat posisi Negara-negara Islam terkhusus Palestina. Bersama Erdagon, Mursi terkenal lantang menyuarakan dukungan dan pembelaan. Israel cetar-cetir saat gerbang Rafah dibuka secara lebar. Belum lagi dukungan Emir Qatar dan kunjungan Erdagon beberapa hari lagi ke Gaza menuntut pelepasan blokade Israel terhadap Palestina. Mata internasional mulai terbuka. Pada saat perang delapan hari dipenghujung Desember itu, sejagad raya mengutuk serangan Israel. Demonstrasi terjadi dimana-mana tanpa henti. Hastag #savepalestine di tweetland menjadi tranding topic. Dukungan semakin meluas dan terbukti saat 107 negara setuju Palestina masuk dalam keanggotaan UNESCO. Israel makin terpojok.

Penduduk Israel-pun sadar bahwa mereka dalam keadaan emergency ada atau tidak adanya perang. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar warga Yahudi memiliki kewarganegaraan ganda. Dalam kondisi genting, mereka bisa langsung kocar-kacir ke berbagai negara menggunakan kewarganegaraan cadangan. Sesuai dengan statement Rasyid Al-Ghanusyi, ketua Partai Gerakan An Nahdhah, kemenangan Palestina semakin dekat. Tanah Al Quds akan segera bebas. Israel sebutir debu!

Sabtu, 30/3/2013

[Ini adalah tulisan pertama yang dipersembahkan untuk lembaga kajian Studi Alam Islami (SINAI) Mesir dan telah diterbitkan dibuletin SINAI edisi 3 April 2013]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut