Muqorror dan 2 Rembulan

. . Tidak ada komentar:

:::WARNING! 87,28 % nyata + 12,72 % nggak nyata:::

Aku berdiri di puncak sebuah apartement berlantai empat tempat aku tinggal. Suhu 10° C cukup membuat jasadku menggigil hebat. Jaket abu-abu tebal made in China, sepasang sarung tangan, sepasang kaos kaki tebal, bantolun dilapisi celana katun, kupluk berikut sebuah sorban hijau melilit jeherku. Namun semua itu belum bisa menangkis belaian tangan dingin yang mencoba menyentuh kulitku. Grrrr…grr… Oh my God… Dingin sekali! Kadang aku membayangkan, aku seperti bangsa Eskimo yang mengimpikan tinggal di daerah tropis, tepatnya Indonesia. Negeri dimana iklim bisa dikatakan tidak terlalu ekstrim.

Bodohnya lagi, ngapain juga aku mau berdiri ketika suhu musim dingin makin meruncing, malam hari pula. Inikah puncak musim dingin yang membuat tubuhku menggigil seperti getaran Vespa Super Sprint 90 itu? Ck…ck…ck... Bahkan kabar burung yang sempat bertengger ditelingaku 49 menit 23 detik yang lalu mengatakan bahwa suhu puncak musim dingin mendekati 6° C. Sungguh kabar tercanggih yang sulit dipercaya. Emangnya aku beruang kutub?! Tapi, bagaimanapun kondisinya, aku tidak boleh mengeluh karena disitulah letak seni pertualangan mengemis ilmu di Negeri Firaun ini.

Dari atas sini, aku cuma bisa menikmati daerah Tajammu' Awwal saja, daerah dimana aku tinggal. Kalau ibukota Kairo, jelas tidak bisa dilihat dari sini karena jauh, sekitar satu jam perjalanan kalau naik kendaraan umum. Kalau mau ngesot juga silahkan. Hehehe. Paling belum sampai di Kairo anda sudah dijebloskan dahulu ke rumah sakit jiwa terdekat! Hahay...

Malam ini rembulan begitu ranum, bulat sempurna! Seperti wajah si dia yang lagi tersenyum. (Suit…suit…suit…) Dan pembaca pun cepat suuzhan, padahal yang kumaksud adalah ibuku tercinta. Hahaha…(Pelajaran moral, carilah 70 alasan sebelum anda bersuudzan pada orang lain)☺. Tapi rembulan itu memang mirip wajah si dia yang satu lagi itu lho! Kamu tahukan sobat? Bahkan aku sulit membedakan mana sang rembulan dan mana sang pujaan hati yang tak jelas orangnya itu. Tak jelas bapaknya dan tak jelas siapa nama anak kucing betina yang dipelihara dirumah tetangganya.

Setelah puas menikmati pemandanagn malam, aku kembali ke kamar untuk menyelesaikan lembar demi lembar muqorror Bahasa Arab karena besok aku akan menghadapi ujian. Mudah-mudahan ujian esok berjalan baik dan lebih sportif. Pasalnya, waktu ujian Tafsir Ayatul Ahkam kemaren, aku sempat kesal pada pengawas ujian yang menunjukkan jawaban pada peserta ujian di belakang dan di depanku. Bahkan aku juga ditawarkan jawaban soal, tapi batinku menolak. Ini seakan menelanjangi kesakralan ujian di Universitas Al Azhar yang terkenal menakutkan! Belakangan baru diketahui, ternyata jawaban yang diberikan ternyata salah besar. Hehehe… Rasain tuh, yang menerima jawaban "gratisan".

Disela-sela memperhatikan deretan huruf yang ada dimuqorror, aku meraih secangkir teh menthol panas di atas meja dan menyeruputnya. Seteguk, dua teguk, tiga teguk melewati rongga tenggorokanku. Nikmat terasa, apalagi dalam kondisi dingin seperti ini. Dan yang bikin nggak tahan adalah rasa menthol yang menciptakan sensasi yang berbeda. Aku seakan menyeruput teh hangat di puncak Gunung Fuji sambil menikmati indahnya Negri Sakura dari ketinggian. Hah! Aku benar-benar lebay. Hahaha...

********

Aku baru saja melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Al Azhar. Setengah jam lagi ujian dimulai. Sadar aku belum terlalu hafal materi yang akan diujikan, aku menfokuskan pada beberapa materi saja dan berdoa kepada Allah agar materi ini yang menjadi soal ujian nanti. Dan ternyata benar, materi yag aku fokus disana masuk ujian. Naasnya, aku lupa sebagian dan tidak bisa menjawab dengan sempurna soal tersebut. But, alhamdulilah, setidaknya Allah telah mengabulkan doaku. Tawakkal dan perbanyak ibadah bung!

Menunggu "salju" di Kota Kairo [11/1/2012| 11:16 WK]

# I want to be a novelist #

__________________________

Bantolun : celana musim dingin, body press terbuat dari bahan yang elastis

Muqorror : diktat kuliah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut