From Korean Style to Korean Style

. . Tidak ada komentar:
Mendung menghimpit langit Kairo sore ini. Matahari pun tertutup oleh gumpalan awan bewarna keabu-abuan. Kuprediksi, angin Laut Mediterania lah yang membuat awan-awan itu bergerak seakan-akan tak kenal arah. Ya! Sepertinya hujan akan turun dalam beberapa menit kedepan.

Setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah, Aku berjalan gontai sambil meraba-raba rambutku yang panjang, tujuanku adalah pangkas rambut Ammu Hamid. Ya Rabb… kalau bukan karena rontok dan ketombean, nggk bakal aku mangkas rambut keren ini.

Pangkas rambut Ammu Hamid terletak dilantai dasar sebuah apartement di belakang apartement tempat aku bernaung. Seperti kebanyakan apartement yang ada di Mesir, biasanya lantai dasar dijadikan ruko tempat usaha masyarakat. Aku sampai di tempat pangkas setelah melewati subuah caffe, loundry, warung dan sebuah salon dengan gambar seorang wanita kurang menarik, berbedak tebal, mengenakan gaun pengantin putih dan sepasang anting ukuran satu jengkal menggantung ditelinganya. Air wajahnya menggambarkan bahwa dia baru saja ditalak tiga oleh suami keempatnya. Pantas tak banyak harimi yang mau bersolek disalon ini. Sungguh tragis!

Aku masuk keruang pangkas. Setelah sedikit bincang-bincang dengan Ammu Hamid, aku disuruh duduk diatas kursi. Rasanya seperti duduk di kursi panas kuis Who Wants to be Millioner yang disiarkan RCTI saat aku masih bau kencur dulu. Kutatap inchi demi inchi rambutku dicermin yang ada dihadapanku. Rambut hitam lurus dengan Korean Style. Ya… walau pun nggak mirip-mirip amat, tapi bisalah dijadikan model rambut para kawula muda Papua untuk tahun 2012 ini.

Secarik kain dengan corak fonetik Cina dikenakan untuk melindungi pakaianku dari sisa-sisa rambut.Ammu Hamid meraih sebuah gunting dan sisir biru dari laci. Dari tampang dan gayanya sich kelihatan bahwa dia adalah seorang pemangkas rambut profesional, seperti Johny Andrean, penata rambut nomor wahid di Indonesia itu lho. Sekarang beliau mulai menjamah rambutku dan memotong dengan cekatan. Dan tiba-tiba,

"Aduhhh!" Aku meringkih kesakitan. Rambutku seakan ditarik-tarik olehnya karena gunting yang kurang tajam. Gurat wajahnya tidak menggambarkan rasa bersalah. Aku jengkel dan menggerutu dalam hati. Selang beberpa menit, dia minta izin keluar sebentar dan aku mengizinkan. Sambil menunggunya kembali, aku membuka facebook di Nokia E63-ku. Empat menit, lima menit, enam menit berlalu namun beliau tak kunjung kembali dan Aku pun mulai resah dan sempat berprasangka buruk. Dimenit ketujuh baru nampak batang hidungnya dan langsung minta maaf padaku. Onde mande! Ternyata beliau meninggalkanku hanya untuk makan siang kawan! Aku rasa, ini merupakan hal terunik sepanjang sejarah dunia percukuran! Seorang tukang cukur meninggalkan pelanggannya hanya untuk pergi makan siang! Sebuah keajaiban yang terkutuk. Dan insyaallah, anda pasti akan menemukan kejadian seperti ini hanya di Mesir saja. Jika di Indonesia pelanggan adalah raja, maka disini malah kebalikannya!

Lagi-lagi aku menggerutu walaupun itu merupakan kebiasaan yang tidak baik. Beliau kembali memangkas rambutku. Tangannya meliuk-liuk seperti ular naga kesenian tari Barong Sai. Seperti apa liukan tangannya maka seperti itu pula liukan rasa sakit yang menghujam kulit kepalaku. Aku protes dan menyuruhnya pelan-pelan dan mengganti gunting yang dia pakai dengan mesin pencukur. Namun ternyata mesin cukurnya sedang rusak dan tak ada gunting yang lain. Tidaaak! Batinku menjerit, hatiku meringkik seperti ringkikan kuda yang dicolok bokongnya dengan besi panas. Aku terpaksa menikmati rasa sakit sampai semuanya berakhir.

Beberapa saat kemudian...

Sebongkah batok kepala agak lonjong dengan gaya rambut poni style. Inikan gaya kedua yang paling aku benci setelah mohak style?! Oh my God… Aku lemas dan langsung menyodorkan uang 10 pon dengan gambar patung Firaun disalah satu sisi uang. Namun beliau menagih 5 pon lagi.

"Biasanyakan cuma 10 pon, sekarang mengapa jadi 15 pon? Le yaa 'amm??" protesku dengan bahasa Arab tentunya.

"Rambutmu tadi terlalu panjang, beda kalo pendek baru 10 pon."
ujarnya singkat plus senyum merekah.


Kini butir-butir gerimis mulai menyetubuhi pasir-pasir gersang. Aku berjalan lemas menuju apartement dan kepalaku pusing, bisa jadi karena efek dari rasa sakit tadi. Ditengah guyuran gerimis aku berusaha menyusun rumus penderitaan beberapa menit yang lalu : Rasa sakit + ditinggal pergi tukang pangkas + gaya poni +15 pon=bye bye Ammu Hamid. Kuputuskan ini adalah kali terakhirnya Aku memangkas rambut disana! Back to Pangkas Rambut Masisir!

**********

"Hahahahhahha…"
Tawa teman-teman meledak saat semuanya melihat gaya rambutku yang norak. Ya, aku enjoy aja, sabar dan nggak usah diambil hati lah. Kalau dipikir-pikir, gaya seperti ini juga mirip dengan salah satu personil Boy Band, band yang lagi naik daun di Negri Gingseng itu. (red: Korea) Dan Aku pun kembali menyusun rumus: Rasa sakit + ditinggal pergi tukan pangkas + gaya poni +  15 pon + ejekan + sabar + ikhlas = masuk surga. Hahay…


Di dekat Agung dan Ajo Rodhi 11:33 CLT

____________________

Ammu : Paman

Harim : Perempuan/Nyonya

Le yaa 'Amm : Kenapa paman??

Onde mande : (Bahasa Minang) Ungkapan takjub/terkejut. Digunakan sesuai kondisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut