Aku, Ayah dan Si Merah

. . Tidak ada komentar:
Kini pandanganku menantang langit. Layar proyektor itu terkembang dan memutar ulang momori lama yang semakin pudar didalam batok kepalaku. Mataku nanar berkilauan bertarung dengan semilir dingin yang tak berkesudahan. Kedua tangankupun menghujam saku jaket tebal hitam yang nyaris 24 jam aku kenakan. Dingin tengah malam ini benar-benar membuatku seakan-akan meloncat kedalam kobaran api yang menyala-nyala.

Kuingat saat Ayah dan Aku menaiki motor menyusuri jalan tanah dilereng bukit menuju kebun kopi. Ayah menyandang mesin pemotong rumput dan aku duduk di depan ayah di jok motor paling depan. Si Merah butut menderu kencang membelah angin. Rambutku terombang-ambing. Yang paling menegangkan adalah saat mendaki jalan dilereng bukit yang tingkat kemiringannya melebihi 45° derajat. Wow wow wow! Aku membayangkan motor ini akan mundur kebelakang dan berguling meramaikan jurang. Tapi penghuni dadaku bersabda! Ayo Merah! Maju terus!

Pernah ketika kami pulang dari memetik buah kopi. Ayah mengemudi motor, Ibu berboncengan di belakang dan aku duduk anggun di depan Ayah. Kusadari bahwa Ayah sedikit banyaknya memiliki naluri seorang pembalap. Tanpa ba-bi-bu, Ayah langsung memainkan gas dan pedal rem sesuka hati. Sebenarnya sih, Si Merah melaju biasa-biasa saja, tapi karena medan jalan yang dihiasi tanjakan, lobang dan bongkahan batu, laju motor terasa kencang. Akibatnya Ibu nyaris tak mau lagi berboncengan dengan Ayah saat Si Merah nyaris terjun bebas ke tengah sawah. Ini mungkin karena Ayah rutin men-service motor hingga staminanya masih fresh. Disaat motor-motor lain sudah bongkar mesin, motor Ayah masih on bahkan diusianya yang kelima belas tahun starter-nya masih berfungsi sempurna.

Suatu hari, dua orang tak dikenal mendatangi rumahku dan ingin membeli Si Merah dan Ayah tegas menolak. Aku bingung, mengapa banyak sekali orang-orang mengincar motor ini. Pernah sebelumnya ada dua kali permintaan, tapi juga ditolak mentah-mentah. Usut punya usut, kata orang kampungku motor ini biasa digunakan untuk motorcross. Tanda tanya ukuran jumbo berserakan diatas kepalaku. Keningku menciptakan kerutan beberapa lipat. Hatiku berbesit “Kok bias? Motor sebutut ini? Hehe” Aku tertawa kecil.

Satu lagi nih tentang si Merah.

Waktu itu, aku mengalami rasa sakit yang berkepanjangan dikepalaku. Ayah berinisiatif membawaku kedokter spesialis di kota Padang. Perjalanan ke kota Padang menurutku bisa dikatakan sangat-sangat menantang. Tapi bagi ayah itu merupakan perjalanan yang biasa biasa saja karena Ayah sering pergi ke Padang minimal 1 kali dalam sebulan. Perjalanan memakan waktu 3 jam, tapi karena Ayah yang mengemudi motornya, perjalan hanya memakan waktu 2,5 jam saja.

Melakukan perjalan dengan Si Merah dipinggir jurang dan bukit bukit terjal ternyata menghadirkan sensasi yang berbeda meskipun jalannya sudah diaspal mulus. Aku bahkan membayangkan rem motor yang kami tumpangi blong dan kami terbang melayang diudara seraya mengisi relung-relung jurang yang ada. Hahahaha…(true but lebay). Hati baru terasa rileks ketika melihat riak danau Diatas dari kejahuan. Aku dan Ayah serentak mengucapkan kata “Fiuuhhh” tanda lega sambil mengusap butiran keringat dingin dengan punggung telapak tangan. Hehehe…(asli lebay).

Daerah ini bernama Alahan Panjang, daratan tertinggi dan terdingin di Sumatra Barat. Disini terlihat jelas pemandangan alami yang eksotis. Bentangan air yang luas dikelilingi bukit-bukit hijau dan Gunung Talang. Dari sini juga dapat juga kita saksikan puncak Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Pulau Sumatra. Walaupun gunung itu berapa di provinsi Jambi, kita dapat menikmatinya dari kejahuan dengan mata telanjang. Indah coy! Kini lidah dingin menjilat leherku. Aku seperti disetrum jutaan volt listrik. Badanku menggigil kuat seperti mesin VW Combi baru dinyalakan. Grgrgrgrggrgrgrg…

Sekarang Si Merah melaju memasuki kawasan kebun teh. Kebun teh yang kabarnya merupakan terbesar ketiga didunia ini seperti karpet hijau yang membentang luas tak berujung. Suasana segar menjalar ketubuhku yang insyaallah akan membentuk sixpack beberapa bulan kedepan. Setelah setengah jam dikepung ribuan hektar kebun teh ini membuat rasa kagumku anjlok ketitik nadir karena membosankan memang melihat pemandangan yang monoton dalam waktu yang lama.

Sekarang, kami telah meninggalkan kebun teh sekitar 1200 detik yang lalu. Saatnya memasuki kawasan Satinjau Lawik. Dari sini kita dapat menyaksikan kawasan kota Padang dari ketinggian. Apalagi dimalam hari, kalau boleh diibaratkan kota Padang seperti langit terbalik yang ditaburi jutaan bintang. Namun dibalik keindahan itu ada suatu ancaman! Ya…ancaman! Tanpa diinstuksikan puluhan kontainer, bus, motor dan ratusan manusia telah meramaikan jurang paling berbahaya nomor wahid di Sumatra Barat. Bagaimana tidak, dengan medan jalan yang mendaki, kelokan tajam, berkabut, semua kemungkinan bahaya mungkin saja terjadi. Kedua sisi jalan diapit oleh jurang dan lereng bukit yang tingkat kemiringannya mendekati 87,67°. Mengerikan bukan?! Belum lagi kalau hujan deras, tanah longsor akan segera memenggal leher para pengemudi yang telah tiba ajalnya. Jantungku berdetak kencang sedangkan Ayah kelihatan biasa-biasa saja. Puluhan bus AKDP, ratusan truk batu bara, truk tanki minyak, container dan semua jenis truk yang pernah ada di dunia ini merangkak pelan menuruni turunan maut itu. Kini kami berada di antara 2 truk PUSO pengangkut kerikil aspal. Pikiranku berkecamuk, adrenaliku berpacu dengan detakan jantung yang tak menentu.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan

Arsip

Pengikut